Mail: gpmb_2001@yahoo.co.id



MEMBACA YANG TERSIRAT DISEKITAR KITA1

D1alam peradapan manusia dari jaman purba hingga sekarang, dalam memahami ilmu tidak pernah terlepas dari membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Yang tersurat manusia memahami ataupun mempelajari suatu ilmu dengan media tulisan (huruf) sedangkan manusia terutama pada jaman purba mempelajari suatu ilmu dengan sesuatu yang tersirat dengan membaca tanda-tanda baik berupa benda yang dibikin oleh manusia maupun benda-benda yang terjadi oleh proses alam maupun tanda-tanda alam.

Di tulisan ini kami akan membahas tentang membaca yang tersirat sesuatu benda-benda bikinan manusia berupa patung-patung yang memuat suatu pesan kepada manusia untuk dipahami makna apa yang terkandung didalamnya.

Pemerintah Republik Indonesia pada awal-awal pemerintahannya, mencari bentuk sistem pemerintahan yang pas dengan kondisi sosio kultural, geografis dan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Untuk itu Soekarno mempunyai pemikiran yang visioner dengan pendekatan seni.

Sukarno selain seorang negarawan, sekaligus juga seorang seniman besar. Saat Soekarno ditawan dan diasingkan oleh Belanda di Flores dan Bengkulu dia menulis drama sekaligus menyutradarainya. Sejak di bangku sekolah di Surabaya Soekarno muda sudah berlatih seni berpidato sehingga mengantarkan dia sebagai orator ulung yang sampai kini belum tertandingi kepandaiannya. Soekarno juga pengagum seni lukis yang luar biasa. Dia juga mempunyai banyak nama-nama pelukis terkenal yang menjadi pelukis istana. Ketika wafat beliau meninggalkan warisan lukisan sebanyak 2.300 bingkai lukisan, mungkin ini merupakan koleksi lukisan terbanyak seorang presiden di seluruh dunia.

Patung-patung yang menjulang megah di berbagai pusat ibukota Negara dibangun pada jaman kekuasaanya menyimpan pesan yang tersirat dari bangunan patung tersebut untuk dibaca apa yang menjadi gagasan beliau untuk disampaikan kepada publik.

Bung Karno Putra Sang Fajar memang sehangat fajar pagi visionernya menyinari setiap relung hati semangat nasionalis bangsa untuk kemajuan negerinya. Putra bangsa yang flamboyan ini memikirkan penataan Ibu Kota, memiliki sarana yang berbudaya seperti berbagai kota dunia lainnya. Itulah sebabnya beliau menginginkan sebuah patung di tengah kota yang mengisi ruang publik, tetapi juga melambangkan semangat penerimaan bagi setiap orang yang berkunjung ke Ibu Kota , selain dari berbagai ornament ibukota liannya yang membangkitkan semangat kebangsaan.

Mengawali gagasannya pada tahun 1958 Bung Karno untuk pertama kalinya memesan patung selamat datang setinggi 9 meter kepada Eddie Sunarso, dengan berat hati Eddie Sunarso menyanggupinya karena untuk pertama kali mendapat perintah langsung dari Presiden Soekarno untuk membuat Patung Selamat Datang dari bahan perunggu, padahal dia sendiri belum pernah sama sekali membuat patung dari bahan itu. Dengan berat hati Eddie Sunarso pulang ke Yogyakarta menemui dua temannya pensiunan bengkel kereta api yang berpengalaman mengecor logam, tetapi bukan dari bahan perunggu sesehingga Eddie harus mencari buku panduan pengecoran perunggu dan sama-sama belajar dengan temannya tersebut.

Eddie membuat model patung setinggi 9 meter dengan bahan gypsum menghabiskan material gypsum sebanyak 15 ton. Setelah model patung selesai, Bung Karno beserta rombongan termasuk para Duta Besar negara-negara sahabat meninjau ke Yogyakarta. Atas usul Eddie dengan pertimbangan estetika patung setinggi 9 meter terlalu besar untuk ukuran Hotel Indonesia, setelah melalui perdebatan seru akhirnya disetujui tinggi patung hanya 6 meter. Setelah ada kesepakatan segera direalisasikan pembuatan patung perunggu yang pertama kali di Indonesia, yang hingga kini masih bisa di lihat di Bundaran HI, mengandung pesan Selamat Datang kepada seluruh bangsa yang datang ke Ibu Kota Negara Republik Indonesia di Jakarta.

Patung Selamat Datang memang luar biasa karena dapat dilihat dari segala penjuru dan itu dibangun atas ide besar Bung Karno yang direalisasikan oleh seniman patung Eddie Sunarso tanpa surat kontrak kerja atau honorarium yang berlebihan.

Ketika Bung Karno mencanangkan untuk merebut kembali Irian Barat, dia kembali meminta kepada Eddie Sunarso membuat patung “Pembebasan Irian Barat” yang kini ada di lapangan Monas, juga mendapat tugas mempersiapkan diorama Monas oleh Bung Karno.

Bung Karno menjelang akhir kekuasaanya memiliki ide membuat patung Dirgantara yang bagaikan Gatot Kaca tokoh pewayangan sebagai kestriya dirgantara yang sakti mandraguna. Sosok patung ini merupakan sosok yang ingin terbang ke angkasa.

Perencanaan di mulai tanggal 1 Oktober 1965, Eddie Sunarso ke Istana mau menghadap Bung Karno, namun tidak ketemu, begitu keluar istana banyak pasukan tidak dikenal, barulah Eddie mengetahui telah terjadi peristiwa Gerakan 30 Sepember (G 30S) PKI. Pembangunan jadi seret,Bung Karno yang kekuasaanya semakin merosot tidak peduli dengan kekuasaannya tersebut.

Bulan Februari sebelum menyerahkan kekuasaanya kepada Jenderal Soeharto, Bung Karno masih memikirkan patung tersebut. Beliau memanggil Eddie dan mengatakan baru kesulitan uang, bahkan rumahnya diagunkan untuk membeli bahan bangunan. Bung Karno lalu menjual mobilnya dan laku seharga satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Dengan anggaran itu, Eddie kemudian memasang patung tersebut.

Ketika dalam proses finishing patung tersebut, pada bulan Juni 1970, tampak iringan mobil lewat, Eddie Sunarso sedang bekerja di atas patung tersebut, diberi tahu kalau Sang Penggagas Patung Dirgantara telah tiada Dia terbang menghadap Sang Pencipta untuk selama-lamanya. Eddie langsung turun dari patung Dirgantara dan ikut mengiringi Bung Karno yang menjadi ide penggagas pembuatan patung Dirgantara ke peristirahatan abadi di Blitar.

Patung Dirgantara itu adalah patung yang tidak terbayar lunas oleh Negara dan tidak pernah di resmikan karena sang penggagas ide besar itu telah pergi lebih dahulu. Monumen terakhir Bung Karno untuk Bangsa Indonesia yaitu Patung Dirgantara yang menyiratkan terbanglah bangsaku tunjukkan kepada seluruh dunia akan kebesaran Bangsa Indonesia sampai akhir jaman.

Demikian tadi bangunan-bangunan peninggalan pendiri Negara yang masih ada sampai sekarang yang merupakan bacaan tersirat di ruang-ruang publik yang mengandung pesan moral dan cita-cita dari pendahulu kita untuk generasi berikutnya sebagai pewaris bangsa ini.

disarikan oleh: Priyo Sularso (Pustakawan Perpustakaan Nasional RI)
Sumber: Asvi Warman Adam, Bung Karno sebagai Seniman Besar;
hlm.6 Seputar Indonesia, 17 Agustus 2010



Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia