Mail: gpmb_2001@yahoo.co.id



Ingin Ciptakan Masyarakat Cinta Buku

ALANGKAH takjub menyaksikan begitu tinggi cinta serta minat warga Singapura terhadap buku. Baik itu dalam hal membaca, menulis, ataupun mengoleksi buku. Hal tersebut bisa tergambar jelas dalam Workshop and Tour on Information-Technology Implementation for Library Development pada 10 sampai 16 Mei 2010 di Singapura. Sewaktu mengunjungi Singapore Polytechnic Library, National Library of Singapore dan Nanyang Technological University, spontan tebersit keirian dan impian saya ketika menyaksikan warga Singapura sangat antusias membaca dan mencintai buku. Saya pun berkhayal andai saja hal yang terekam di mata itu juga terjadi di tanah air. Betapa tidak, ribuan orang, mulai anak-anak, pemuda, hingga para orang tua, berbaur menjadi satu dalam satu tujuan yang sama: membaca buku favorit keluaran baru yang belum mereka punya. Namun, tidak hanya buku baru yang dibaca, Perpustakaan di Singapura juga menyediakan aneka buku lama (dalam bahasa pesantren kitab; buku yang ditulis dengan huruf Arab) dari berbagai disiplin dan ilmu. Ratusan penerbit dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, juga menjadi koleksi di perpustakaan-perpustakaan di negara Singapura. Sebagai salah satu negeri pemilik peradaban baru, kiranya Singapura sangat sadar bahwa syarat sebuah negara dapat maju dan terus berkembang adalah adanya masyarakat pembelajar yang cerdas. Masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Bila tidak ada aktivitas membaca, peradaban sebuah negara akan dengan sendirinya terhenti. Budaya membaca memiliki fungsi sangat penting dalam peningkatan masyarakat sebuah negara karena menjadi pintu menuju cakrawala ilmu pengetahuan. Menulis mustahil terwujud tanpa adanya kegiatan membaca. Mungkin karena kesadaran itulah, di bumi yang berjuluk Negera Singa tersebut, membeli buku atau kitab sudah seperti membeli permen saja. Sedangkan orang mencetak buku sudah serupa membuat kopi. Setiap hari hampir dapat dipastikan selalu ada buku baru yang siap saji. Bahkan, jika dicetak oleh penerbit yang mendapat subsidi dari pemerintah, harga jual buku tersebut sangat murah, laiknya sepiring nasi dan kopi. Mencari penerbit yang mau menerbitkan naskah bagi para penulis pun bisa diibaratkan mencari kedai kopi di pinggir jalan. Asal bagus, meski belum tentu laris manis di pasaran (punya selling point), naskah itu akan tetap diterbitkan penerbit untuk memperkaya khasanah kepustakaan Singapura.
Sebuah fenomena yang tentu kontradiktif dengan kondisi di tanah air. Sebab, meski penerbit di sini sekarang mulai banyak bermunculan, sebagian besar masih amat mengedepankan selera pasar dan laba daripada motif pembelajaran masyarakat. Mereka berpikir seribu kali untuk menerbitkan buku yang tidak sesuai selera pasar meski naskah itu bagus dan mendidik. Hal itulah yang mungkin menjadikan Indonesia per tahun ”hanya” mampu menelurkan 12.000 judul buku. Kalah jauh dari Vietnam yang menghasilkan 15.000 judul buku baru dalam setahun. Belum lagi ditambah adanya gejolak ekonomi global yang berimbas pada kenaikan bahan baku dan produksi. Penerbit lebih selektif menerbitkan buku dan berimbas pada harga jual buku di pasaran. Fakta itulah yang termasuk semakin menjauhkan masyarakat Indonesia dari masyarakat cerdas dan maju.
Menyematkan satu kesalahan atas masih rendahnya daya beli dan minat baca-tulis masyarakat pada satu pihak tentu juga bukan hal yang bijak. Lebih bijak bila bersama-sama mencari solusi permasalahan kompleks yang ada. Untuk mengatasinya pun, diperlukan kerja sama dan kesadaran dari berbagai pihak. Berkaca pada pengalaman saya di Singapura, tentu pemerintah harus lebih proaktif dalam upaya mewujudkan masyarakat pembelajar dan cerdas. Langkah awal yang perlu dipertimbangkan adalah mendirikan penerbit-penerbit bersubsidi (pelat merah) di setiap kota besar serta memperbanyak perpustakaan. Negara Singapura saja yang luasnya hanya seluas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta banyak penerbit pelat merah dan perpustakaan di seantero kota. Menemukan perpustakaan yang besar dan lengkap pun tidak sesulit di tanah air. Padahal, adanya sebuah perpustakaan mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin membaca namun tidak mampu membeli buku karena harganya yang rata-rata masih mahal.
Selain syarat mutlak pembentukan masyarakat pembelajar, budaya membaca merupakan bagian upaya menjalankan amanat konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Ketika budaya membaca dan menulis tidak dikuasai, sebuah bangsa akan kewalahan dalam menguasai ilmu pengetahuan. Namun, dalam mendorong budaya membaca, perlu ada sebuah ”gerakan” kolektif. Cita-cita luhur itu sulit diwujudkan jika hanya dilakukan negara. Di sinilah perlu ada kerja sama saling bahu-membahu antara pemerintah, komunitas literasi, dan masyarakat. Mengingat masih rendahnya minat baca-tulis, memang cita-cita itu tidak akan bisa terpenuhi dalam waktu dekat dengan hanya mengandalkan negara. Kita membutuhkan banyak sekali pustaka, perpustakaan, pemustaka yang dewasa serta peduli untuk saling bekerja sama menstimulus kecintaan pustaka.
Dari kerja sama itu, setidaknya ada semacam pameran buku, bazar buku, pelatihan-perlombaan menulis, bedah buku, hingga munculnya penerbit dan perpustakan baru. Semua itu jelas akan meningkatkan pengenalan terhadap kepustakaan dan selanjutnya menjadikan adanya minat membaca dan menulis. Waba’du, impian saya saat menyaksikan Perpustakaan-perpustakaan di Singapura pun segera terwujud di tanah air. (*)

*) Priyo Sularso , Pustakawan Pertama. Kini tercatat sebagai Pengurus Pusat GPMB

BERITA VIDEO


Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia