Mail: gpmb_2001@yahoo.co.id



ANAK MEMBACA SEJAK DINI

Anak Membaca Sejak Dini, Orang Dewasa Membaca Lebih Dini Lagi
oleh
DR. Murti Bunanta, SS, MA
Ahli Sastra Anak
Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak



Makalah dibawakan untuk Seminar Internasional Pengembangan Minat Baca, diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional bekerjasama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca, di Hotel Aston Atrium Senen, 3 – 5 Agustus 2006





Sepucuk surat dilayangkan pada saya meminta kesediaan saya untuk berbicara tentang minat membaca. Kali ini, yang membuat saya tersenyum geli adalah dalam undangan tercantum predikat: Dr. Murti Bunanta (Praktisi Minat Baca). Bagaimana saya tidak geli, kalau Praktisi Hukum itu saya tahu, tetapi apa itu “Praktisi Minat Baca?”. Profesi apa ini? Kalau saya seorang ABG, pasti saya akan berkata: “Idiih, norak deh elo!”.
Ibu dan Bapak yang terhormat, jadi setelah saya mendapat predikat ini, maka silakan menghubungi saya bila ibu dan bapak mempunyai masalah tentang minat baca. Kalau makin banyak permintaan bantuan, maka saya akan buka praktek “Minat Baca” dengan jam praktek terjadwal.
Buka praktek atau tidak, nyatanya sejak saya mendirikan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) pada tahun 1987 puluhan permintaan ceramah telah saya layani, belum termasuk permintaan wawancara di berbagai media. Sebagian di antaranya telah dibukukan dalam buku berjudul: “Buku, Mendongeng dan Minat Membaca” yang terbit pada tahun 2004. Cetakan kedua sedang dipersiapkan.
MINAT MEMBACA I
Sebetulnya telah banyak masalah yang berhubungan dengan minat membaca saya bahas. Akan tetapi, seringkali hal-hal tersebut dibicarakan kembali dalam berbagai ceramah yang diselenggarakan oleh berbagai penyelenggara. Coba kita lihat: Tentang kiat-kiat menumbuhkan minat baca, dapat dibaca dalam buku saya, Buku, Mendongeng dan Minat Membaca a.l. dalam artikel “Akrabkan Anak dengan Buku” (1987), “Sekali Anda Memulai, Seumur Hidup Anda Menikmati” (1992) dan “Menumbuhkan dan Meningkatkan Minat Baca Anak Melalui Peranan Orang Tua dan Guru” (1992). Tentang peranan pustakawan yang berkualitas, ada dalam artikel “Meningkatkan Minat dan Budaya Membaca Anak dan Remaja Melalui Peningkatan Mutu Layanan Perpustakaan” (1991) dan “Perpustakaan dan Minat Membaca” (1997). Masalah perpustakaan keluarga bisa dibaca pada hal. 7-8 buku saya (1987), peranan perindustrian perbukuan ada dalam artikel “Sastra dan Bacaan Anak-anak Masih Dianaktirikan” (1998), sedangkan tentang koleksi dan memilih buku anak banyak pula dibahas dalam berbagai artikel (1989 dan 1990) dalam buku saya itu. N.H. Dini lebih dari sepuluh tahun lalu berbicara tentang pondok bacanya, sebuah prakarsa individu dalam merintis minat baca masyarakat dan sampai berumur 70 tahun pun N.H. Dini masih aktif membina masyarakat melalui perpustakaan pribadinya. Masalah perpustakaan desa pernah pula menjadi topik pembicaraan sebuah seminar minat membaca. Bahkan gerakan minat membaca telah saya bahas pada hal. 188-189 (2000).
Jadi yang hendak saya tanyakan apakah masalah minat baca ini hanya dicukupkan sebagai wacana saja, ataukah cukup sekedar menjadi topik seminar yang laku diceramahkan, ataukah kita ingin menangani masalah minat membaca dengan sungguh-sungguh, konkret, dan melibatkan diri sebagai pelaku? Seorang pustakawan pernah berkata pada saya: “Jengkel deh saya dengan minat baca masyarakat, makanya saya mau menyelenggarakan seminar”. Cukupkah? Mari kita lihat persoalannya.
MINAT MEMBACA II
Rasanya banyak yang sudah tahu bahwa minat membaca harus dimulai sejak dini. Tetapi kapan dan bagaimana? Ini yang sulit dilakukan. Coba kita lihat kegiatan di berbagai perpustakaan umum dan perpustakaan daerah. Berapa banyak anak TK dan balita serta batita yang datang ke sana? Hampir tidak ada. Dan lebih-lebih lagi apakah ada program untuk mereka sehingga mereka akrab dengan buku dan tertarik mengunjungi perpustakaan? Tidak ada. Yang penting, apakah perpustakaan mempunyai koleksi buku untuk anak-anak yang oleh kita, orang dewasa, diharuskan membaca sejak dini. Tidak ada. Selain itu, apakah perpustakaan dirancang dengan menyisakan tempat yang menyenangkan bagi anak-anak usia dini ini untuk bermain-main dan merasa nyaman? (Mungkin ada; tetapi pasti tidak banyak).
Mungkin orang berpikir untuk anak-anak balita dan TK cukup dimulai di sekolah dan di perpustakaan desa atau dari perpustakaan di rumahnya sendiri. Memang benar. Akan tetapi bagaimana kalau anak tidak mempunyai akses satu pun dari kemungkinan ini? Bukankah perpustakaan umum atau perpustakaan wilayah dan daerah yang harus memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan mereka, tidak hanya secara pasif, tetapi juga secara aktif melayani anak-anak dan keluarga. (Mari kita baca tulisan saya mengenai lawatan saya di berbagai perpustakaan di Jepang dalam “Buku, Mendongeng dan Minat Membaca” , hal. 113-117).
Saya baru saja meninjau berbagai perpustakaan desa di suatu daerah. Sebuah lembaga swadaya yang menghimpunnya bekerja sendiri secara swadaya dengan pihak swasta. Saya bayangkan kalau saja lembaga ini juga bekerjasama dengan perpustakaan daerah tentu akan lebih baik. Sayang, perpustakaan yang megah itu terlihat sepi. Apakah ini sebabnya? Pada kesempatan lain saya mengunjungi sebuah sekolah untuk mendongeng pada anak-anak. Terlihat sebuah mobil perpustakaan keliling sedang di parkir. Pintunya dibuka sehingga pengunjung bisa melihat dan membaca koleksinya. Tetapi, tak ada satu pun anak yang mendekatinya padahal mobil tersebut berada di sekolah tersebut paling tidaknya dua jam dan ada jam istirahat yang bisa digunakan anak-anak untuk memilih, melihat, dan membaca buku. Setelah saya tanyakan, guru-guru mengatakan tidak ada buku untuk anak-anak SD. Lalu kemana pengemudinya dan adakah pustakawan atau petugas perpustakaan? Mereka menunggu di warung dan menikmati kopi. Setelah waktu kunjung selesai mereka akan datang kembali dan akan meninggalkan sekolah dan mungkin akan bertugas di sekolah lain dengan pola yang sama.
Baru-baru ini saya mengunjungi sebuah Madrasah Swasta. Koleksinya sudah memadai. Saya lihat banyak yang bermutu dan cukup banyak yang pantas dikoleksi di perpustakaan. Madrasah ini di bawah binaan suatu universitas. Jam kunjung ke perpustakaan pun sudah terjadwal. Perpustakaan tersebut ditata dengan apik. Sinar dan udara cukup. Apalagi kekurangannya? Hanya ada segelintir anak yang masuk melihat-lihat buku. Lainnya duduk-duduk di luar. Ketika saya tanyakan apakah guru suka bercerita, mereka menjawab “ya”, dan ketika saya tanya juga buku mana yang mereka sukai mereka hanya bisa menunjukkan beberapa buku. Cerita apa yang didongengkan guru? Cerita agama. Lalu setelah guru bercerita, buku apa yang dibaca? Kebanyakan lihat-lihat saja. Mengapa tidak membacanya? “Malas”, dengan tegas anak tersebut menjawab. Jadi, di mana kesalahan ini? Mari kita lihat persoalannya.

Keterampilan Membaca dan Minat Membaca
Orang dewasa, yaitu kita ini, banyak yang tidak tahu membedakan antara keterampilan membaca dan minat membaca. Dia berdekatan tetapi tidak selalu saling mengikat. Seorang anak bisa saja terampil membaca. Lancar bila diminta untuk membaca buku padahal dia baru kelas 2 atau 3 SD dan bahkan ada yang baru kelas 1 SD. Tetapi, banyak yang tidak paham cerita apa yang baru dibacanya. Anak-anak itu haus akan bacaan, seringkali membuka-buka buku, mencari-cari, tetapi ada sesuatu yang tidak ditemukan. Karena guru, dan pustakawan tidak dapat menunjukkan jalannya. Mereka dibiarkan mencari sendiri.
Sebaliknya ada anak yang belum dapat membaca, karena masih berumur golongan batita atau balita, tetapi dia mempunya minat membaca karena orang dewasa di sekelilingnya mengajarinya menemukan “kenikmatan membaca” melalui berbagai cara; dengan membacakan atau dengan mendongengkan. Yang utama orang di sekelilingnya membimbingnya dengan antusias, sungguh-sungguh, dan menjadi pelaku aktif.
Orang dewasa di sekelilingnya menyukai dan menikmati membaca buku anak, mereka yang menyediakan dan memilihkan buku. Mereka pula yang menularkan kenikmatan membaca dan pasti mereka seorang pembaca juga. Rasanya orang semacam ini bukan orang yang sekedar bisa berkoar tentang pentingnya membaca dan hanya pandai berwacana serta menganjur-anjurkan untuk membaca.

Anak sebagai target. Yang mana?
Menurut data statistik ada 74.000.000 anak di Indonesia (Kantor Berita Indonesia Gemari – 2003). Jumlah anak berumur di antara usia 7-15 tahun adalah 39.246.700 dan yang bersekolah ada 34.746.593 (BKKBN – 2004). Jumlah siswa SD dari kelas 1 - 6 sebanyak 25.976.285 (Balitbang Depdiknas – 2004).
Jadi, mana yang akan menjadi target tembakan “minat membaca sejak usia dini?” Yang bersekolah, yang tidak bersekolah, yang tidak duduk di SD lagi atau termasuk mereka yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA atau anak-anak dari sekolah khusus serta sekolah kejuruan? Lalu bagaimana dengan anak yang membutuhkan perhatian khusus, yaitu anak tuna netra, anak tuna rungu, anak autis, anak yang berpenglihatan lemah, anak tuna daksa, anak dengan keterbelakangan mental dan lainnya.
Minat membaca harus dilatihkan dan dikenalkan sejak anak belum dapat membaca sekalipun, sehingga anak dapat menikmati dan menemukan kenikmatan membaca. Hal ini bisa dimulai sejak mereka bisa duduk dan dipangku dengan mengggunakan buku agak besar. Gambar-gambar cerah diperlihatkan dan diceritakan. Bisa pula memakai buku kain, buku plastik atau buku berkarton tebal. Selain itu anak juga harus dibiasakan membaca buku dengan berbagai tema, topik, dan ragam. Yang agak besar, dapat diberi komik yang baik, novel pendek, novel panjang, kamus, ensiklopedia, majalah, koran, picture book dan lainnya.
Anak harus dikelilingi dengan buku, sediakan buku yang sesuai dengan minatnya dan kembangkan minatnya pada berbagai hal dari sejarah, biografi, ilmu pengetahuan, pengetahuan sosial, pengetahuan politik dan lainnya. Buku yang disediakan juga harus ada yang selangkah lebih maju sehingga anak akan didorong untuk maju.

Anak Remaja
Tidak semua anak beruntung mendapatkan akses buku sejak usia dini, lalu bagaimana dengan anak remaja? Agak terlambat memang. Tetapi mereka juga harus diberi kesempatan untuk dapat menemukan kenikmatan membaca. Tidak hanya tugas-tugas sekolah yang biasanya hanya menyajikan bacaan klasik, misal: Siti Nurbaya, Layar Terkembang, dan lain-lain. Banyak bacaan sastra yang lebih baru dapat diperkenalkan pada mereka.

Tugas Siapa?
Jadi, tugas siapa semua ini? Tugas anakkah? Minat membaca tidak datang dengan sendirinya. Minat membaca tidak diturunkan, melainkan dicontohkan, dan anak harus ditunjukkan jalannya. Orang dewasa yang harus mencontohkan; yaitu orang tua, guru, pustakawan, rohaniawan, pengambil keputusan, pendidikan, kepala sekolah, dan lainnya. Semua orang dewasa yang berhubungan dengan pendidikan, sekolah, dan perpustakaan harus suka membaca dan “belajar” menyukai bacaan kapanpun. Sulit memang, tetapi kalau tidak, mereka hanya dapat berwacana saja.

Orang Dewasa Dicerahkan
A. Refleksi Diri
Cobalah orang dewasa mengadakan refleksi diri. Tanyakan pada diri sendiri apakah selama ini cuma berkoar saja, lebih bertindak sebagai penganjur, penyelenggara ceramah, pembuat pernyataan-pernyataan hebat tentang minat membaca, hanya bekerja untuk memenuhi tugas-tugas administrasi saja atau juga aktif terlibat dalam kegiatan yang dapat membuat orang lain ikut membaca? Yang manakah anda?
B Mengubah Sikap
Ubahlah sikap Anda secepatnya. Paksakan membaca buku anak, buku remaja, dan buku untuk diri sendiri. Tekuni apakah buku yang dibaca bermutu, cukup bagus, atau tidak sama sekali. Pikirkan mengapa dan bagaimana seharusnya? Mulailah dari diri sendiri lalu tularkan pada orang terdekat, yaitu keluarga, tetangga, dan masyarakat.
Kalau Anda kepala sekolah atau kepala perpustakaan tanyakan pada diri sendiri apakah pernah memilihkan buku dan membacanya dengan hati-hati, buku-buku yang dikoleksi dan akan dibeli oleh perpustakaan tempat Anda bekerja. Apakah Anda menganggarkan cukup dana untuk membeli buku dan mengirim pustakawan mengikuti pelatihan yang berguna? Dan apakah Anda pernah membacakan cerita dan mendongeng bagi anak-anak pengunjung perpustakaan? Apakah pernah menyapa anak-anak dan menyemangati mereka untuk membaca? Semua sikap dan tindakan akan ditiru dan menjadi contoh bawahan untuk membangkitkan minat baca masyarakat.

Program Sastra
Program sastra adalah semua kegiatan yang dijadwalkan dan dirancang untuk membuat anak, anak remaja, orang dewasa, dan masyarakat lainnya gemar membaca serta menemukan kenikmatan membaca. Mereka akan tertarik mengunjungi perpustakaan, dan program ini akan berfungsi sebagai “promosi” untuk menarik “peminat” untuk membaca buku.
A. Program untuk perpustakaan umum
1. Mengadakan bengkel membaca, bengkel menulis, dan bengkel teater.
2. Mengadakan diskusi buku dengan jam-jam yang telah dijadwalkan bagi berbagai kelompok pengunjung.
3. Mengadakan kegiatan bercerita atau membacakan buku yang dilakukan oleh petugas perpustakaan untuk menarik para pengunjung untuk aktif dan secara sukarela juga melakukan kegiatan ini melalui pembacaan buku yang dibacanya.
4. Mengadakan kegiatan membuat resensi, dan bedah buku bagi anak dan remaja.
5. Mengadakan berbagai pelatihan dan lokakarya mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan buku dan minat membaca.
6. Mengadakan pameran buku pilihan dan penjualan buku bermutu dengan harga diskon.
7. Dan lain-lain.

B. Program untuk perpustakaan sekolah
Dapat dilakukan seperti di atas dengan skala yang lebih kecil dan lebih melibatkan guru dan anak didik sendiri.

C. Berbagai program yang lebih lengkap dapat dibaca di buku saya “Buku, Mendongeng, dan Minat Membaca”. (Pustaka Tangga, 2004)

PENUTUP
Jelaslah, keberhasilan kampanye minat membaca sejak dini ada di tangan orang dewasa juga. Selama 20 tahun saya berkecimpung dalam masalah ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa pada umumnya orang dewasa hanya menjadi penganjur. Kalau toh menyediakan buku atau mendirikan perpustakaan, anak hanya dibiarkan sendiri membolak-balik buku tanpa arah. Orang dewasa menganggap kalau bisa membaca lalu minat datang sendiri. Seringkali anak hanya komat-kamit saja dan petugasnya hanya merokok dan mengobrol.
Jadi, menurut saya, kalau ingin membuat anak membaca sejak dini, orang dewasalah yang harus membaca lebih dini lagi. Tanpa usaha tersebut orang akan terus bertemu di ruang seminar dan bukan di ruang baca.











Jakarta, 24 Juli 2006


Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia